Kamis, 24 Februari 2011

Sistem perekonomian yang di ketahui oleh para manager di indonesia

NAMA : BAYU HIDAYATULLOH

KELAS : 3EA12

NPM : 11208365

MATKUL : PEREKONOMIAN INDONESIA


Sistem perekonomian adalah sistem yang digunakan oleh suatu negara untuk mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya baik kepada individu maupun organisasi di negara tersebut. Perbedaan mendasar antara sebuah sistem ekonomi dengan sistem ekonomi lainnya adalah bagaimana cara sistem itu mengatur faktor produksinya. Dalam beberapa sistem, seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi. Sementara dalam sistem lainnya, semua faktor tersebut di pegang oleh pemerintah. Kebanyakan sistem ekonomi di dunia berada di antara dua sistem ekstrim tersebut.

Selain faktor produksi, sistem ekonomi juga dapat dibedakan dari cara sistem tersebut mengatur produksi dan alokasi. Sebuah perekonomian terencana (planned economies) memberikan hak kepada pemerintah untuk mengatur faktor-faktor produksi dan alokasi hasil produksi. Sementara pada perekonomian pasar (market economic), pasar lah yang mengatur faktor-faktor produksi dan alokasi barang dan jasa melalui penawaran dan permintaan.

* 1 Perekonomian terencana
* 2 Perekonomian pasar
* 3 Perekonomian pasar campuran

Perekonomian terencana

Ada dua bentuk utama perekonomian terencana, yaitu komunisme dan sosialisme. Sebagai wujud pemikiran Karl Marx, komunisme adalah sistem yang mengharuskan pemerintah memiliki dan menggunakan seluruh faktor produksi. Namun, lanjutnya, kepemilikan pemerintah atas faktor-faktor produksi tersebut hanyalah sementara; Ketika perekonomian masyarakat dianggap telah matang, pemerintah harus memberikan hak atas faktor-faktor produksi itu kepada para buruh. Uni Soviet dan banyak negara Eropa Timur lainnya menggunakan sistem ekonomi ini hingga akhir abad ke-20. Namun saat ini, hanya Kuba, Korea Utara, Vietnam, dan RRC yang menggunakan sistem ini. Negara-negara itu pun tidak sepenuhnya mengatur faktor produksi. China, misalnya, mulai melonggarkan peraturan dan memperbolehkan perusahaan swasta mengontrol faktor produksinya sendiri.

Perekonomian pasar

Perekonomian pasar bergantung pada kapitalisme dan liberalisme untuk menciptakan sebuah lingkungan di mana produsen dan konsumen bebas menjual dan membeli barang yang mereka inginkan (dalam batas-batas tertentu). Sebagai akibatnya, barang yang diproduksi dan harga yang berlaku ditentukan oleh mekanisme penawaran-permintaan.
[sunting] Perekonomian pasar campuran


Perekonomian pasar campuran atau mixed market economies

adalah gabungan antara sistem perekonomian pasar dan terencana. Menurut Griffin, tidak ada satu negara pun di dunia ini yang benar-benar melaksanakan perekonomian pasar atau pun terencana, bahkan negara seperti Amerika Serikat. Meskipun dikenal sangat bebas, pemerintah Amerika Serikat tetap mengeluarkan beberapa peraturan yang membatasi kegiatan ekonomi. Misalnya larangan untuk menjual barang-barang tertentu untuk anak di bawah umur, pengontrolan iklan (advertising), dan lain-lain. Begitu pula dengan negara-negara perekonomian terencana. Saat ini, banyak negara-negara Blok Timur yang telah melakukan privatisasi—pengubahan status perusahaaan pemerintah menjadi perusahaan swasta.

Rabu, 23 Februari 2011

Is me

NAMA : BAYU H

KELAS : 3EA12

NPM : 11208365

MATA KULIAH : B. INDONESIA(SOFTSKIL)

AKU

Saya adalah anak k-5 dari 5 bersaudara, karna saya anak yang terakhir jadi dulu saya anak yang sangat manja. Tapi itu dulu, sekarang saya sudah tumbuh dewasa dan bukan anak kecil lagi. Saya mulai merasa berfikir lebih dewasa walau terkadang saya suka berbuat nakal. Itu mungkin karna saya masih muda dan masih ingin bersenang-senang, dan juga ini adalah proses pencarian jati diri menurut saya. Saya memang terlihat orang yang tidak pernah serius, memang saya suka bercanda tapi itu hanya di luarnya saja. Saya bisa koq bersikap serius dan gak main-main tergantung sikon dan juga keadaan suasana hati.
Hoby saya adalah olah raga, hampir semua olah raga saya sukai. Tapi saya lebih menyukai badminton, saya sendiri juga tidak tau mengapa saya sangat menyukai olah raga ini mungkin karna semua keluaga saya menyukai olah raga ini. Saya sempat memiliki cita-cita untuk menjadi atlit badminton tapi itu dulu waktu masih anak-anak klo sekarang cii cita-cita saya simpel saja, saya cuma pengen jadi orang yang sukses dan bisa ngebahagia'n ortu karna menurut saya klo orang udah sukses akan dengan mudah ngebahagia'n orang-orang disekeliling kita asalkan kita tidak menyakiti atau menyinggung perasaan orang-orang disekeliling kita. Memang kedengarannya tidak mudah tapi setiap manusia kan boleh berangan-angan, anggap aja itu sebagai motivasi untuk meraih apa yang ingin dicapai. Saya juga memiliki moto hidup yaitu "Muda bahagia, tua kaya raya, mati masuk surga". Kesannya itu memaksa tapi saya yakin setiap orang pasti memiliki keinginan seperti itu.
Semoga apa yang saya tuangkan dalam blog ini menjadi kenyataan kelak.
AMIN ! ! !

langkah-langkah membuat laporan ilmiah

NAMA : BAYU H

KELAS : 3EA12

NPM : 11208365

MATA KULIAH : B. INDONESIA(SOFTSKIL)




Cara Penulisan Laporan Ilmiah

Format laporan ilmiah
Ada berbagai macam format penulisan .Namun perbedaan di antara format format yang ada jangan terlalu dipermasalahkan. Hal yang perlu diperhatikan adalah:

1. Pembaca dapat memahami dengan jelas bahwa penelitian telah dilakukan tujuan dan hasilnya.
2. Langkah – langkah medannya jelas , agar jika pembaca tertarik dapat mengulang kembali.

Pada dasarnya ada dua bentuk sistematika penulisan ilmiah ,Yaitu penulisan proposal penelitian dan laporan hasil penelitian . Pada umumnya sistematika penulisan proposal penelitian danpenulisan laporan penelitian sebagai berikut :
Bagian awal

1. halaman judul
2. Halamn persetujuan dan pengesahan (pada laporan penelitian ,sebelum halaman kata pengantar dicantumkan intisari /abstrak)
3. Halamn kata pengantar atau prakata
4. Daftar isi
5. Daftar tabel (jika ada)
6. Daftar gambar (jika ada)
7. Daftar lampiran (jika ada)

Bagian Utama
BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah
2. Rumusan masalah
3. Tujuan penelitian
4. Ruang lingkup
5. Manfaat penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Landasan teori/ tinjauan teoretis
2. Kerangak teori
3. Kerangka konsep
4. Hipotesis atau pertamyaan penelitian (jika ada hipotesis)

BAB III METODE PENELITIAN ATAU CARA PENELITIAN

* Jenis penelitian
* Populasi sample (untuk penelitian disertai unit penelitian )
* Variabel penelitian (untuk penelitian laboratorium / eksperimental, sebelum variabel penelitian dicantumkan bahan dan alat)
* Definisi operasioanal variabel atau istilah –istilah lain yang digunakan untuk memberi batasan operasional agar jelas yang dimahsud dalam penelitian itu.
* Desain / rancangan penelitian ( tidak harus , kecuali pada penelitian eksperimental)
* Lokasi dan waktu penelitian
* Teknik pengumplan data.
* Instrumen penelitian yang digunakan
* Pengolahan dan Analisis data

Khusus laporan penelitian dilanjutkan dengan bab IV -VI berikut ini :

BAB IV – HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V – KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI – RINGKASAN

Bagian Akhir

1. Daftar pustaka

2. Lampiran – lampiran;
# Instrumen penelitian
# Berbagai data sekunder yang diperlukan
# Anggaran penelitian
# Jadwal penelitian

PEREKONOMIAN INDONESIA

NAMA : BAYU

KELAS : 3EA12

NPM : 11208365



perlukah campur tangan pemerintah dalam perekonomian

Peran Negara di Dalam Perekonomian

Keberhasilan pembangunan ekonomi di negara-negara Asia Timur sebelum krisis yang melanda pada tahun 1997-1998 kerap diasosiasikan dengan kuatnya peranan pemerintah. Tak seperti di negara-negara Barat yang mengutamakan mekanisme pasar dan mendudukkan pemerintah pada peran ekonomi yang seminimal mungkin, di negara-negara Asia Timur pemerintah dan swasta berinteraksi dalam suatu jalinan kelembagaan yang memungkinkan terpacunya pertumbuhan usaha atau industri yang efisien dan berdaya saing. Sebelum krisis tak sedikit ekonom liberal atau neoklasik yang bersikukuh bahwa keberhasilan Asia Timur tetap bisa dijelaskan sepenuhnya dengan kerangka teori yang mereka yakini. Bahkan di antara mereka ada yang mencibir dengan mengungkapkan hasil-hasil penelitiannya yang mengindikasikan bahwa era pertumbuhan tinggi di Asia Timur sudah hampir berakhir, karena yang menjadi topangannya selama ini -yaitu tenaga kerja murah, sumber daya alam, dan modal pinjaman murah- tak bisa lagi terus menerus diandalkan.Kapitalisme atau liberalisme memang telah membuktikan keampuhannya dalam memak-murkan masyarakat (sekurang-kurangnya sebagian dalam proporsi yang signifikan). Namun, ditinjau dari kacamata pembangunan fisik semata, komunisme juga mampu melakukannya walaupun tidak sehebat Kapitalisme. Fenomena keberhasilan Asia Timur juga membuktikan bahwa kapitalisme a la Barat bukan satu-satunya sistem yang menjamin keberhasilan ekonomi. Persoalannya kian pelik kalau yang menjadi tolok ukur keberhasilan tak semata-mata aspek materi, melainkan juga penguatan harkat dan martabat umat manusia. Sejauh ini kita bisa mengatakan, paling tidak komunisme telah gagal mengangkat harkat dan martabat masyarakatnya. Sebaliknya, tak ada yang bisa menjamin bahwa sistem yang diterapkan di Barat maupun Asia Timur akan terus mampu dan berhasil mempertahankan kesinambungan sukses ekonomi, apalagi sekaligus memperkokoh harkat dan martabat manusianya.

Dari pengalaman banyak negara kita bisa menarik hikmah bahwa sepanjang itu rekayasa manusia, tak ada yang bersifat langgeng. Segalanya akan dan harus berubah sejalan dengan tuntutan masa. Kapitalisme yang kita kenal dewasa ini sudah jauh berbeda dengan sosok idealnya. Demikian pula dengan demokrasi, sangat berbeda bentuknya dibandingkan dengan yang diidealkan oleh Jean Jacques Rousseau. Bagi Indonesia yang belum memiliki sosok yang jelas, seharusnya bisa lebih banyak belajar dari pengalaman keberhasilan dan kegagalan sistem-sistem yang sejauh ini telah diterapkan. Akan terlalu panjang dan berliku perjalanan yang harus dilalui kalau kita membusungkan dada dengan tekad, yang tak pernah terealisasikan, mencari sendiri sistem yang paling “tepat” bagi kita, kecuali jika kita benar-benar mampu menjabarkan sepenuhnya hukum-hukum Ilahiah. Mencari boleh-boleh saja, tetapi jangan memasang target kelewat tinggi yang tidak realistik.

Campur tangan pemerintah di dalam perekonomian memang tak perlu dipandang sebagai pantangan. Keberhasilan negara-negara Asia Timur bahkan dicirikan oleh kuatnya campur tangan pemerintah. Tetapi sebaliknya, banyak campur tangan tak menjamin keberhasilan pembangunan ekonomi. Banyaknya campur tangan pemerintah juga tak otomatis mencerminkan kuatnya peranan pemerintah, apalagi kalau bercampur baur dengan kepentingan pribadi atau motif politik elit penguasa. Jadi sejak awal harus dibedakan dengan tegas antara kepentingan pemerintah yang mewakili secara sah kedaulatan rakyat dengan kepentingan pribadi-pribadi elit penguasa. Kalau pada tahap ini saja kita sudah kehilangan jejak, jangan banyak berharap campur tangan pemerintah akan memberikan dampak positif yang lebih besar ketimbang dampak negatifnya.

Campur tangan harus diiringi dengan otonomi pemerintah-bahkan ada yang berpendapat harus dengan strong autonomy of state-dalam memformulasikan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dan menerapkannya. Otonomi ini pun merupakan suatu syarat perlu (necessary condition), jadi belum tentu menjamin keberhasilan, karena pada gilirannya bergantung pada kemampuan pemerintah untuk menerapkan otonomi itu sendiri. Di sini kita bicara kapasitas pemerintah untuk membaca medan laga, mempertimbangkan daya absorpsi sosial-politik masyarakat yang dihadapinya, yang berubah-ubah dari waktu ke waktu. Dengan demikian tak ada bentuk final dari sosok keterlibatan pemerintah yang optimal. Yang penting adalah kemampuan suatu sistem untuk beradaptasi dengan lingkungan dan tantangan baru.

Sabtu, 08 Januari 2011

BAB V

PENUTUP
Kesimpulan
Bedasarkan hasil analisis data dari penelitian tersebut, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Hasil pengujian hipotesis, menyimpulkan bahwa berwujud (X1) yang terdiri dari kondisi fisik/fasilitas dalam bank, kenyamanan ruangan dan cara berpakaian karyawan bank; kehandalan (X2) yang terdiri dari sistim pelayanan, kecepatan melayani nasabah, prosedur penanganan nasabah, prosedur penanganan keluhan; ketanggapan (X3) yang terdiri dari ketrampilan pelayan/petugas dalam menanggapi kebutuhan nasabah, kemampuan karyawan/daya tanggap dalam melayani nasabah, kesediaan karyawan menangani keluhan dengan cepat, kemudahan menghubungi karyawan bank; jaminan (X4) terdiri dari sikap yang dimiliki karyawan (ramah, sopan dan murah senyum), jaminan keamanan dan ketenangan, pengetahuan karyawan dalam menangani nasabah, sifat dapat dipercaya karyawan; dan empati (X5) terdiri dari tersedia toilet, tersedianya tempat menunggu, tersedianya brosur-brosur yang dibutuhkan oleh nasabah, tersedianya tempat parkir terbukti berpengaruh serempak terhadap loyalitas nasabah pada Bank DKI Cabang Bekasi, dengan dimana nilai Sig F sebesar 0,000 < α = 0.05.
2. Dari hasil analisis pengujian diketahui bahwa variabel yang berpengaruh relatif dominan secara signifikan terhadap loyalitas nasabah pada Bank DKI Cabang Bekasi adalah variabel berwujud (X1) dimana koefisien regresi variabel berwujud sebesar 0,481 dan nilai Sig t sebesar 0.002 < α = 0.05, merupakan nilai tertinggi dari keempat variabel lainnya. Dengan demikian hipotesis kedua yang diajukan di dalam penelitian ini dinyatakan diterima atau terbukti kebenarannya dengan kata lain menerima hipotesis H1 dan menolak hipotesis Ho.

Saran
Beberapa saran terkait dengan hasil penelitian dan usulan penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut:
1. Pengaruh dominan yang signifikan variabel berwujud (X1) menunjukkan bahwa variabel tersebut dianggap oleh nasabah lebih berpengaruh terhadap tingkat loyalitas mereka pada Bank DKI Cabang Bekasi. Karenanya disarankan pada manajemen Bank DKI Cabang Bekasi, hal-hal yang berhubungan dengan variabel berwujud hendaknya harus selalu diperhatikan tidak saja dengan kondisi sekarang tetapi di masa yang akan datang secara kontinyu namun model penerapannya harus selalu ditinjau ulang keefektifannya sehingga tidak bersifat monoton yang pada akhirnya akan dianggap oleh nasbah tidak ada kemajuan.
2. Sedangkan untuk variabel jaminan (X4), empati (X5) dan ketanggapan (X3) hendaknya harus dikaji ulang model inplementasinya yang selama ini menjadi kebijakan pihak manajemen Bank DKI Cabang Bekasi. Karena jika dilihat pada hasil pengujian ketiga variabel tersebut tidak memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap loyalitas nasabah pada Bank DKI Cabang Bekasi.

DAFTAR PUSTAKA
Djunaidi, 2006, Analisis Kepuasan Pelanggan Dengan Pendekatan Fuzzy Service
Quality Dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan, Jurnal Ilmiah Teknik Industri.
Elfida, Yani, 2004, Analisis pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas
nasabah Pt. Bank Sumatera Utara di Medan, Tesis, Prorgam Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Fandy Tjiptono, 2004, Manajemen Pemasaran Jasa. Yogyakarta: Andi Offset.
Febriana, Rini, 2008, Pengaruh kualitas pelayanan terhadap tingkat kepuasan
konsumen pada my salon & spa cabang kota Bogor, Skripsi, Universitas Gunadarma, Jakarta.
Fredy Rangkuti, 2003, Teknik Mengukur dan Strategi Meningkatkan
Keputusan Konsumen. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka.
Hartanto, 2002, Studi Asosiatif Tentang Kepuasan Pelanggan Bank BNI Cabang
Tegal”(Studi Kasus Tentang Pengaruh Keandalan dan Daya Tanggap Terhadap Kepuasan Pelanggan), Tesis, Program Pasca Sarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
Haris, 2006, Pengaruh Kualitas Pelayanan, Kualitas Produk, dan Tingkat
Kepuasan Konsumen terhadap Loyalitas Konsumen Pada Produk
Makanan di Restoran Cepat Saji, Skripsi, Universitas Gunadarma
Kotler Philip, 1997, Manajemen Pemasaran Analisis Perencanaan.
Jakarta: PT. Prehalindo.
Palilati Alida, 2007, Pengaruh Nilai Pelanggan, Kepuasan Terhadap Loyalitas
Nasabah Tabungan Perbankan Di Sulawesi Selatan, Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, Vol. 9, No. 1, Maret 2007: 73-81
Rizki Rachmawati, 2005, Analisis Pengaruh Kualitas & Pelayanan Jasa
Terhadap Loyalitas Nasabah Bank DKI cabang Universitas
Gunadarma, skripsi, Universitas Gunadarma.
Sugiyono, 2005, Statistik Untuk Penelitian. Bandung: CV. Alfabeta.
Suhartanto, 2001, Kepuasan Pelanggan: Pengaruhnya terhadap Perilaku
Konsumen Di Industri Perhotelan. Universitas Gunadarma, skripsi.
Sunarto, 2002, Pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas nasabah deposito
pada Pt. Bank Mandiri cabang (persero) Semarang Pahlawan, Disertasi, Semarang, FIS UNNES.
Swasta, Basu dan Handoko, Hani T., 1987, Manajemen Pemasaran, Analisa
Perilaku Konsumen, Edisi 2, Liberty, Yogyakarta
Tjiptono, Fandy, 2000, Strategi Pemasaran, Andi Offset, Andi Offset,
Yogyakarta.
——————-, 2002, Manajemen Jasa, Andi Offset, Andi Offset, Yogyakarta.
Triton P B, 2006, SPSS 13.0 Terapan Riset Statistik Parametrik.
Yogyakarta: Andi Offset.
Umar, Husein, 2000, Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen, Jakarta Business
ReseachCenter,Jakarta

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Profil Responden
Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa jumlah responden wanita ada 71 orang atau sekitar 54,6%. Sedangkan pria ada 59 orang atau sekitar 45,4%. Dapat simpulkan bahwa mayoritas responden yang menggunakan Bank DKI lebih banyak Wanita. Responden termuda berumur 19 tahun, yang tertua berumur 52 tahun. Responden yang jenjang SMP ada 3 orang atau sekitar 2,3%, responden yang jenjang SMA ada 112 orang atau sekitar 86,2%, responden yang jenjang D3 ada 3 atau sekitar 2,3%, responden yang jenjang S1 ada 12 orang sekitar 9,2%, jadi dapat dikatakan bahwa mayoritas jenjang responden adalah SMA. Dapat diketahui bahwa ada 8 orang atau sekitar 6,2% dari Pelajar, 1 orang atau sekitar 0,8% dari Advertaising, 9 orang atau sekitar 6,9% dari Asistenlab, 87 orang atau sekitar 66,9% dari Karyawan, 8 orang atau sekitar 6,2% dari Staff Keuangan, 16 orang atau sekitar 12,3% dari Wiraswasta, 1 orang atau sekitar 0,8% dari Mekanik.
Dilihat dari pendapatan, ada 4 orang atau sekitar 3,1% yang berpenghasilan Rp 150.000, ada 1 orang atau sekitar 0,8% yang berpenghasilan Rp.400.000, ada 6 orang atau sekitar 4,6% yang berpenghasilan Rp.500.000, ada 2 orang atau sekitar 1,5% yang berpenghasilan Rp.750.000, ada 2 orang atau sekitar 1,5% yang berpenghasilan Rp.800.000, ada 1 orang atau sekitar 0,8% yang berpenghasilan Rp.850.000, ada 12 orang atau sekitar 9,2% yang berpenghasilan Rp.1000.000, ada 1 orang atau sekitar 0,8% yang berpenghasilan Rp.1300.000, ada 40 orang atau sekitar 30,8% yang berpenghasilan Rp.1500.000,
ada 29 orang atau sekitar 22,3% yang berpenghasilan Rp.1700.000, ada 6 orang atau sekitar 4,6% yang berpenghasilan Rp.1800.000, ada 1 orang atau sekitar 0,8% yang berpenghasilan Rp.1900.000, ada 11 orang atau sekitar 8,5% yang berpenghasilan Rp.2000.000, ada 7 orang atau sekitar 5,4% yang berpenghasilan Rp.2500.000, ada 5 orang atau sekitar 3,8% yang berpenghasilan Rp.3000.000 dan ada 1 orang atau sekitar 0,8% yang berpenghasilan Rp.5000.000. sedangkan dilihat dari lama menabung, ada 33 orang atau sekitar 25,4% lama menabung 1 tahun /bulan, ada 45 orang atau sekitar 34,6% lama menabung 2 tahun /bulan, ada 24 orang atau sekitar 18,5% lama menabung 3 tahun /bulan, ada 13 orang atau sekitar 10,5% lama menabung 4 tahun /bulan, ada 3 orang atau sekitar 2,3% lama menabung 5 tahun /bulan, ada 4 orang atau sekitar 3,1% lama menabung 6 tahun /bulan, ada 7 orang atau sekitar 5,4% lama menabung 7 tahun /bulan, dan ada 1 orang atau sekitar 0,8% lama menabung 8tahun /bulan lain-lain.

Pengujian Data

1. Pengujian Reliabilitas dan Validitas
Mengacu dengan pendapat Solimun (2002:71) maka dapat dikatakan bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian ini telah memiliki kesahihan butir, karena nilai korelasi yang diperoleh masing-masing indikator lebih besar 0,3 (r > 0,3). Kecuali untuk butir pertanyaan L1.4 tidak dapat diikut sertakan untuk dianalisis karena tidak memenuhi syarat r > 0,3.
Merujuk dari pendapat Malhotra (1988) Solimun, (2002: 71) bahwa suatu instrumen dikatakan reliabel manakala memenuhi standar koefisien alpha Cronbach lebih besar dari 0,6 (α > 0.6) maka dapat dikatakan bahwa angka koefisien reliabilitas yang diperoleh sebagaimana pada Tabel 4.2 telah memenuhi syarat reliabilitas, dengan demikian kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini cukup handal dalam mengukur persepsi responden terhadap variabel yang diteliti.






Regresi Linier Berganda

1. Lima Dimensi Servqual Terhadap Loyalitas Nasabah Pada Bank DKI Cabang Bekasi.
Dari hasil analisis regresi linier berganda seperti dalam Tabel 4.9 di atas, kemudian dimasukkan ke dalam model persamaan regresi berganda sebagai berikut : Y = 3,046 + 0,481 X1 + 0,339X2 + 0,329X3 + 0,201X4 + 0,310X5. Persamaan tersebut menunjukan, variabel independen yang dianalisis (X1, X2, X3, X4 dan X5) berpengaruh positif terhadap nilai loyalitas nasabah pada Bank DKI Cabang Bekasi.
Besarnya pengaruh variabel independen secara keseluruhan, ditunjukan oleh nilai koefisien Adjusted R Square yaitu sebesar 0,130. Nilai tersebut dapat diartikan bahwa perubahan kelima variabel independen tersebut mempunyai pengaruh sebesar 13% terhadap variasi perubahan nilai loyalitas nasabah pada Bank DKI Cabang Bekasi. Sisanya sebesar 87% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan. Nilai koefisien korelasi (Multiple-R) yang diperoleh sebesar 0,404, hal tersebut dapat diartikan bahwa hubungan (korelasi) variabel independen (X1, X2, X3, X4 dan X5) terhadap variabel dependen (Y) adalah sebesar 40,4%. Hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah, variabel kualitas pelayanan (keandalan, daya tanggap, jaminan, empaty, bukti fisik) secara serempak berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah pada Bank DKI Cabang Bekasi. Untuk menguji apakah hipotesis pertama diterima atau ditolak digunakan uji F.
Dari hasil pengujian diperoleh Sig F 0,000 < α = 0.05, ini berarti ke lima variabel yang diteliti yaitu berwujud (X1), kehandalan (X2), ketanggapan (X3), jaminan (X4) dan empati (X5) secara serempak berpengaruh signifikan

terhadap loyalitas nasabah pada Bank DKI Cabang Bekasi. Dengan demikian hipotesis pertama yang diajukan dinyatakan diterima atau terbukti kebenarannya, dengan kata lain menerima hipotesis (H1) dan menolak hipotesis (Ho).

2. Rangkuman Hasil
Berdasarkan hasil analisis uji t di atas diketahui bahwa variabel yang berpengaruh relatif dominan secara signifikan terhadap loyalitas nasabah pada Bank DKI Cabang Bekasi adalah variabel berwujud (X1) di mana nilai koefisien regresi yang diperoleh sebesar 0,481 pada Sig t sebesar 0,002 < α = 0.05 dengan demikian hipotesis kedua yang diajukan di dalam penelitian ini dinyatakan diterima atau terbukti kebenarannya dengan kata lain menerima hipotesis H1 dan menolak hipotesis Ho.

BAB III

METODE PENELITIAN
Objek Penelitian
Penelitian ini merupakan studi empiris dengan melihat hubungan dan pengaruh antara variabel yang diteliti, di mana peneliti secara langsung ke objek penelitian untuk melakukan pengamatan sekaligus aktivitas nasabah Bank DKI Cabang Bekasi.
Metode Pengumpulan Data
Data-data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan metode:
1. Observasi, peneliti secara langsung mendatangi daerah penelitian dan mengamati secara langsung nasabah yang menggunakan jasa perbankan pada Bank DKI tersebut.
2. Wawancara, yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan dialog secara langsung dengan nasabah.
3. Kuesioner, yaitu dengan cara memberikan daftar pertanyaan kepada responden untuk diisi.

Metode Analisis
1. Uji Validitas dan Reliabilitas
Sebelum butir-butir pertanyaan diolah lebih lanjut maka terlebih dahulu melakukan uji validitas dan reliabilitas:
a. Uji Validitas
Sebelum dilakukan lebih lanjut, ada baiknya juga dilaksanakan uji Validitas. Pengukuran validitas konstruknya menggunakan analisis faktor dengan metode Principal Component Analysis adalah suatu metode suatu faktor membentuk kombinasi linier tidak berhubungan dari variabel yang di observasi yang dilengkapi dengan teknik korelasi pruduct moment atau yang biasa disebut momen tangkar.Komponen selanjutnya menjelaskan porsi yang lebih kecil secara progresif dari nilai varian dan semuanya tidak berhubungan dengan satu sama lain.
b. Uji Reliabilitas
Sebelum item-item pertanyaan digunakan, maka terlebih dahulu harus dilakukan uji reliabilitas. Tujuannya adalah agar data yang diambil benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Cronbach’s alpha. Setelah nilai koefisien diperoleh, maka perlu ditetapkan suatu nilai koefisien reliabilitas dianggap reliabel. Dalam hal ini koefisien reliabilitas antara 0,70 - 0,80 cukup baik untuk tujuan penelitian dasar (Kaplan et all, 1993: 126). Menurut Malhotra (1988) Solimun, (2002:71) bahwa suatu instrumen dikatakan reliabel manakala memenuhi standar koefisien alpha Cronbach lebih besar dari 0,6 (α > 0.6).
2. Uji Asumsi Linearitas
Sebelum melakukan perhitungan regresi linear berganda, maka perlu dilakukan uji asumsi dari analisis regresi adalah uji linearitas. Uji linearitas merupakan suatu upaya untuk memenuhi salah satu asumsi analisis regresi linear yang mensyarakatkan adanya hubungan variabel bebas dan variabel terikat yang saling membentuk kurva linear, kurva linear dapat terbentuk apabila kenaikan skor variabel bebas diikuti oleh kenaikan skor variabel terikat (Triton P.B, 2006:158). Kalau tidak linear maka analisis regresi tidak dapat dilanjutkan.
3. Regresi Linier Berganda
Digunakan apakah ada pengaruh antara tiga dimensi webqual terhadap intensitas pengguna Web Library, maka dilakukan suatu analisis yaitu dengan regresi Linier Berganda. Analisis tersebut bertujuan untuk mempelajari pola dan hubungan statistik antara dua atau lebih variabel, dan kemudian meramalkannya dengan menggunakan persamaan regresinya. Rumusnya adalah sebagai berikut:
y = a + bΣx1 + b2 Σx2

Dimana: y ; Variabel dependen
a ; Konstanta
b2; Koefisien Regresi 1b
x1, x2 ; Variabel Independen I & II